Wednesday, May 10, 2017

Senopati Ichiro Rajagukguk

Sudah 5 bulan berlalu tetapi tetap ditulis untuk kenangan
Ini kehamilan ke 4, kehamilan yang didahului dengan membaca bukunya Landrum B. Shettles “how to choose the sex of your baby “ dan tentunya dengan doa yang tidak sedikit. Perkiraan lahir adalah tanggal 5 November 2016, akan tetapi sejak memasuki minggu ke 32 perut sudah terasa kencang dan kontraksi palsu sudah rajin menghampiri. Selama kehamilan kontrol terajin adalah ke Dr Titin di RS MK Cikarang, diselingi ke Dr.Irwan di RS PK Jababeka, sempat juga mencoba ke Dr Emi di klinik IK Jababeka. Aku tetap berharap bisa melahirkan normal dan gentle seperti kakaknya, kali ini tanpa senam hamil, dan hanya yoga sendiri plus rajin goyang inul di Gymball.
Minggu ke 36 cuti melahirkan sudah diambil dengan pertimbangan persiapan untuk melahirkan normal. Meskipun persiapan melahirkan jadi terganggu dengan emosi yang mirip roll coaster karena asisten di rumah yang tidak sesuai harapan. Setiap malam sudah tidak bisa tidur nyenyak karena kontraksi bahkan aplikasi “kontraksi nyaman” yang diinstal di hp sudah menyarankan untuk segera menghubungi provider kesehatan. Tapi kontraksi menghilang kembali, dan begitu berulang ulang. Sebenarnya kedua kelahiran terdahulu selalu melewati due date yang lumayan ekstrim yaitu 2-3 minggu. Tapi kehamilan kali ini berharap sekali bisa melahirkan cepat, apalagi pada usia 37 minggu menurut bidan di faskes BPJS kepala bayi sudah masuk ke panggul.
Dua minggu awal masa cuti diisi dengan mendaftarkan BPJS calon baby dan mencoba pelayanan control kehamilan ke dokter kandungan dengan menggunakan BPJS. Beberapa review yang sudah dibaca sepertinya pelayanan BPJS lumayan ok untuk periksa kehamilan. Riwayat melahirkan dengan operasi SC pun memudahkan untuk mendapatkan rujukan ke dokter kandungan. Sayangnya Dr Titin dan Dr Irwan prakteknya di RS yang tidak menerima BPJS. RS OI Cikarang akhirnya di pilih untuk memeriksa kehamilan diusia 38 minggu yang sudah diiringi kontraksi berkali kali.
Dokter H yang memeriksa sungguh diluar dugaan, apalagi setelah menanyakan riwayat kelahiran Dininove(anak ke 2) yang lahir normal, home and waterbirth dan berjarak 2.5 tahun dengan operasi SC kakaknya. Sambil asyik mengintip dedek bayi beliau menceritakan mengenai ngerinya rupture rahim sebagai resiko melahirkan normal setelah SC. ``untungnya anak dan ibu selamat ya``….
Meskipun gondok dan emosi, tapi aku bisa tersenyum, dan hanya mengiyakan tanpa mendebat. Tapi sebenarnya karena ada inang mertua ada disitu mendampingi jadi jaga image sedikit ceritanya. Harus SC secepatnya dalam 3 hari dan habis itu steril serta disarankan untuk CTG(CTG dengan biaya sendiri lho, karena BPJS hanya menanggung 160 ribu untuk control).
Hasil CTG menunjukan sudah mulai ada kontraksi dan VT sudah bukaan 1, jadi sang bidan langsung menanyakan kapan mau SC. Tidak mungkinlah langsung memutuskan, jadi ditinggal pulang dan tidur dengan perasaan yang campur aduk. Untungnya anak ke tiga dan kehamilan ke empat, jadi buffernya masih cukup untuk tidak jadi baper. Pilihan saya dan suami sudah mantap, mencoba untuk melahirkan normal dan tidak bersedia di steril. Sang dokter kami cuekin dan berniat kembali ke dokter semula.
Besoknya jalan jalan ke RS MK ketemu dr Titin, menurut beliau semuanya masih baik baik dan ditunggu hingga 9 November. Kalau belum ada kontraksi tanggal 9 di jadwalkan untuk SC, dalam hati sempat terbersit untuk minta SC tanggal 10 kan pas hari Pahlawan, keren dong anak laki laki lahir di hari pahlawan. Kami pulang dengan legowo, siap dengan segala kemungkinan.
Tiga minggu masa cuti sudah terlewati, tanggal 1 november berlalu,bersamaan dengan ultah Ninop, tanggal 4 november bersamaan dengan aksi besar dijakarta juga sudah berlalu, baby masih saja betah di rahim mamanya. Opung sampai akhirnya pulang kembali ke Kota Pinang karena sudah 2 minggu menunggu. Setelah sebelumnya bubid Siti Rohma dari Klinik Mutiara Bunda memperkirakan seminggu lagi baru baby akan launching. Bayi memang punya waktunya sendiri untuk lahir, hanya saja rasanya sabar itu terlalu berat waktu itu.
Penantian yang benar benar menguras pikiran dan emosi, ditambah kondisi rumah dan segala macam permasalahannya yang membuat tidak nyaman. Bisikan bisikan untuk menyerah dan SC saja bahkan sudah mampu menggoyahkan keinginan untuk berusaha melahirkan normal. Tidak ada yang salah dengan melahirkan secara SC, menurutku secara pribadi adalah bagaimana pola pikir kita menyikapinya. Perjuangan untuk bisa melahirkan sesuai harapan akan sangat membantu perjuangan parenting selanjutnya. Bukan hanya sekadar bagaimana cara bayi lahir, kita masih punya tugas bagaimana bayi kita tumbuh dan berkembang nantinya.
Penghiburan datang setiap kali lihat di layar USG bahwa dedek bayi masih baik baik saja, placenta sudah mulai ada pengapuran, tapi air ketuban dalam volume yang cukup. Secara fisik ibu sehat, tapi penantian memang terkadang menyakiti perasaan.
Tanggal 9 pun tiba tanpa ada tanda tanda kontraksi selain kontraksi palsu. Kami mencoba untuk mencari opini ke 4 dengan menggunakan BPJS ke RS Siloam di Cikarang. Sedari pagi jam 8 mengantri, di panggil di meja pendaftaran jam 11, dan mendapatkan jadwal dokter jam 12. Bertemu dengan Dr. Aditya aku ceritakan riwayat kehamilan terdahulu dan harapan untuk bisa melahirkan normal. Beliau menjelaskan bahwa melahirkan normal di rs tidak ditanggung BPJS, sementara untuk SC meskipun kelas 1 ditanggung BPJS tapi beliau menyarankan untuk upgrade. Terutama karena SC pertama di Jepang yang beliau khawatirkan aku akan shock jika membandingkan dengan SC disini. Tetapi dengan bijak beliau menjelaskan pilihan tetap di tanganku. Di layar USG baby masih baik baik saja, tapi hasil CTG juga menunjukan sudah ada kontraksi dan bukaan juga sudah 1 longgar (sama dengan pemeriksaan 2 minggu sebelumnya di RS OI). Tenteramnya di hati adalah beliau bisa menunggu 3 hari lagi, dan kalaupun tetap menggunakan fasilitas BPJS beliau tetap bersedia menjadi dokter yang akan membantu proses kelahiran sang baby. Menurut beliau, baby sudah siap lahir kapan saja, dan tinggal kami memilih tempat melahirkan dengan nyaman. Akan tetapi aku disarankan untuk ekstra peka dengan kondisi kehamilanku, segera ke rumah sakit jika merasa ada yang aneh dengan gerakan bayi atau sesuatu yang tidak biasa.
Sepanjang perjalanan pulang, aku dan suami sepakat untuk menunggu dan kalaupun pada akhirnya memilih untuk SC kami memilih untuk SC di RS MK yang relative lebih dekat dan dengan Dr Titin yang sudah lebih mengetahui riwayat kehamilanku.
Sampai rumah rasanya sudah capek sekali seharian di RS, makan malam dan mendampingi ichiko belajar dengan sisa sisa tenaga, jam 9 sudah masuk kamar untuk tidur. Sambil mendengar lagi hillsong “I surrender” mata akhirnya terpejam juga. Jam 10 tiba tiba merasa ada yang turun di perut, dan sakit diperut mulai terasa berbeda. Aku mencoba untuk tidur karena masih berpikiran ini adalah kontraksi palsu seperti biasanya. Ternyata kontraksi makin intens setiap 5 menit, dan aplikasi HP pun sudah menyarankan untuk segera menghubungi nakes. Membangunkan si papa yang baru terpejam matanya, malah disuruh menunggu pagi saja. Mulailah beres beres tas yang sudah disiapkan sejak lama, sempat mandi dan ganti baju, makan roti dan minum madu.
Jam 12 rasa nikmatnya gelombang sudah tidak bisa tertahankan lagi rasanya, sambil tetap goyang inul di bola, papa dibangunkan dan kaget melihat aku yang sudah siap sambil meringis ringis. Mbahnya anak anak dipamitin untuk jaga, dan kaget karena tidak menyangka akhirnya tanda tanda tiba juga. Ku sms dokter Titin untuk minta advise, karena tujuan kita adalah ke RS MK. Di mobil berdua si papa, memegang handle diatas pintu mobil setiap kontraksi datang, kontraksi tambah nikmat apalagi saat melewati garis pengurang kecepatan yang biasa di sebut polisi tidur.
Sudah mendekati RS MK belum ada balasan dari dokter Titin, malah si Papa akhirnya memutuskan untuk cus ke mutiara bunda setelah sebelumnya aku menelepon ibu bidan Siti Rochma dan beliau standby di klinik. Bukan perjalanan yang gampang meskipun jalanan sepi karena sudah lewat tengah malam, banyaknya polisi tidur (apa sih namanya sebenarnya ya), membuat kontraksi makin intens. Gelombang kontraksi kunikmati sendiri karena tidak mungkin meremas tangan si papa yang sedang menyetir mobil.
Sesampainya di klinik pukul 01.30, masih berdiri sebentar menikmati gelombang kontraksi. Dan sewaktu diperiksa bubid sudah bukaan 4, efek goncangan di mobil sepertinya. Sewaktu control bubid sempat mengungkapkan harapannya semoga tiba diklinik sudah bukaan 3 lho. Mulailah bubid membantu mengarahkan, mbak siti dan asisten yang satunya juga memijat punggung yang ternyata bener bener membantu ,melewati gelombang cinta yang luar biasa ini. Karena memang siangnya sudah capek tenagapun sepertinya sudah tidak ada, beruntung bubid menyediakan kurma dan teh manis yang harus selalu dikonsumsi setiap jedah kontraksi. Kontraksi ini memang tidak sesilent waktu melahirkan Dininove, tapi teknik pernafasan yang pernah dipelajari sangat membantu untuk menikmatinya. Sekitar jam 3.30 diperiksa bubid sudah bukaan 8 dan makin disuruh jongkok setiap kontraksi datang,dan tidak boleh berbaring melainkan tetap goyang diatas bola gym.
Kalau ditanya sakitkah kontraksinya, jujur ini sakit sekali. Kadang kepingin juga seperti orang yang melewati kontraksi tanpa rasa sakit,melahirkan yang cepat , tapi setiap orang kan punya jalannya masing masing. Setiap kontraksi tiba aku affirmasikan bahwa rasa sakit ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan bahagianya menimang baby dan bisa melihat langsung sang bayi yang sudah berbulan bulan di dalam rahim kita.Kalau sakitnya hampir mencapai limit, aku affirmasikan bahwa hal inilah yang aku nanti selama ini karena artinya sudah dekat waktunya aku akan menimang sang baby. Sambil berdoa minta kekuatan Tuhan, aku tetap berharap tetap kuat untuk melewati proses ini. Susahnya berusaha tersenyum setiap gelombang kontraksi datang. Tangan si papa jadi korban untuk melampiaskan rasa sakit, bukan melawan rasa sakitnya tapi lebih mencoba menikmatinya tanpa teriakan teriakan.
Waktu keinginan mengejan mulai datang, aku reflek menggeram karena desakan dibawah semakin kuat. Sewaktu hendak diperiksa bubid ketuban pecah, dan bubid mengatakan waktunya akan tiba sebentar lagi. Beliau meminta izin untuk menunaikan sholat subuh dan menyusui anaknya yang juga baru berusia 3 bulan. Setelah subuh baby akan lahir menurut beliau. Beliau sempat menanyakan apakah aku mau water birth atau mau dikasur saja, tapi sungguh aku sudah tidak bisa memutuskan lagi. Aku yang sudah dalam kondisi pasrah tidak bisa memutukan apapun.
Setelah azan subuh, bubid memasuki ruangan dan siap mendampingi untuk melahirkan. Ternyata dengan posisi tidur telentang aku tidak punya tenaga sama sekali, bahkan lupa cara mengejan dengan benar. Bubid memperbolehkan aku untuk mengejan dengan posisi miring, dan ternyata ini adalah posisi yang tapat. Dua kali mengejan dengan posisi miring tapi baby belum keluar juga, tapi masih bisa makan kurma dan minum teh manis, sempat lagi berkata ke bubid bahwa sekali ini baby akan lahir.
Benar saja waktu gelombang tiba, aku seperti punya kekuatan untuk mengejan dengan kuat, dibantu bubid dan asistennya aku kembali keposisi telentang dan tidak ingat apa yang mereka lakukan tapi dengan sekali sentakan panjang babypun lahir. Ini berbeda dengan ninov yang aku masih bisa aku rasakan bagaimana kepala leher dan bahunya mulai keluar dari dalam tubuhku.
Sang baby lahir dengan cepat, ternyata disertai lilitan tali placenta pada leher, pundak, tangan dan paha. Menurut bubid ketuban sudah keruh dan tali plasenta sudah mengalami pengapuran. Lilitan ini sudah berkali kali diungkapkan oleh Dr Irwan, bahkan beliau bergurau untuk membelikan kalung karena sepertinya si baby menyukai kalung.
10 November 2016 pukul 04.30 pagi, bayi lelaki kami lahir ke dunia dengan panjang 53 cm dan berat 3800 gram. Just in perfect time! Aku sering berdoa minta melahirkan waktu siang hari, atau di saat lalu lintas tidak padat (macet adalah horror yang mengerikan disini). Sewaktu diletakan di dadaku, sambil menunggu placenta lahir, kepeluk dan kucium, kubisikan bahwa cinta kami dan penyertaan Tuhan menyertai kehadirannya di dunia. Meskipun kakak kakaknya tidak ikut menyambut (Ichiko dulu ikut melihat waktu adeknya lahir tapi mungkin belum mengerti), tapi kami berdua papa mamanya menyambut kehadirannya dengan cinta dan doa.
Pada akhirnya kesakitanku berakhir dengan manis, kami memberinya nama SENOPATI ICHIRO RAJAGUKGUK (sang panglima anak lelaki pertama dikeluarga Rajagukguk). Senopati bisa juga berarti SEpuluh November emPAt TIgapuluh. Lahir di hari pahlawan kami berharap Seno akan menjadi lelaki berjiwa pahlawan yang tidak pantang menyerah dan tidak mengenal rasa takut. Dan semoga langkah kakinya akan selalu berada dalam jalan yang dikehendaki oleh Tuhan. Berkat besar ini kami terima dengan pinta pada Tuhan semoga kami diberi berkat dan karunia untuk membesarkan anak anak kami dalam jalanNya. Benarlah bahwa tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, tidak ada pembenaran untuk setiap sungut sungut.
Memiliki pengalaman melahirkan dengan SC, melahirkan normal dan juga melahirkan di air membuat aku menyadari bahwa memberdayakan diri untuk belajar adalah bagian yang harus dilakukan oleh ibu hamil. Berusahalah dan ikhlaskanlah hati untuk menerima semua kemungkinan. Percayalah, bagian kita adalah untuk belajar dan berusaha, Tuhan yang akan mengambil bagianNya dengan indah apapun caranya. Dukungan keluarga dan suami memegang peranan sangat penting, aku menyadari kalau bukan suami tercinta yang tetap ingin anaknya lahir secara normal mungkin aku juga sudah menyerah. Apapun latar belakang di balik semua itu, tetaplah keteguhan hati itu memberi kekuatan yang tidak terduga.
Terima kasih untuk para dokter dengan berbagai advisenya, aku belajar untuk tidak mengatakan dokter ini salah atau dokter itu bagus. Semua ini membuat wawasanku semakin luas dan menyadari bahwa kita memang harus banyak belajar. Dalam ilmu kedokteran tidak ada semutlak matematika di mana 1+1=2. Bercermin pada pekerjaanku yang selalu berhubungan dengan tanaman yang sakit. Selalu ada syarat dan ketentuan yang berlaku, kita yang harus bisa memutuskan apakah kita akan menurut dan percaya sepenuhnya apa kata dokter, atau kita memilih mendengar pendapat lain baru bisa memutuskan.
Terimakasih bubid Siti Rochma dan team di klinik Mutiara Bunda Cikarang, yang sudah membantu dua kelahiran anak anakku. Terima kasih untuk pembelajaran selama dua proses melahirkan, terimakasih untuk kesabarannya, untuk dukungan dan bantuannya selama ini. Semoga makin banyak ibu ibu yang bisa belajar dan melahirkan dengan damai dan penuh sukacita.
Maria Sugiharti (Mamanya Ichiko,Dininove dan Senopati)

Membawa ASIP dari Bangkok




Ini kisal awal maret lalu ketika dapat penugasan untuk mengikuti seminar di Bangkok.
Sebenarnya sudah maju mundur ketika sebelum melahirkan sudah dapat jadwal untuk menghadiri seminar ini.  Bagi sebagian orang mungkin ini kesempatan bisa sekalian jalan jalan ala backpacker dengan fasilitas turis koper(iyalah tiket+hotel  kan sudah dibayari kantor) tapi buat emak muda dengan bayi berumur 4 bulan yang sedang berusaha untuk memberikan ASI ekslusif ini bukan perkara gampang.  Membawa ASI perah (ASIP) lintas provinsi sudah bukan masalah, tapi lintas negara  selama 5 hari adalah pengalaman pertama buatku.  Kalau hanya di pompa bisa dapat 500 ml/jam, artinya  akan ada 2,5 liter ASIP yang harus di bawa pulang dengan kondisi dingin dan masih bisa dikonsumsi.  Kalau dengan 2.5 liter setara lebih kurang 2 kg ditambah dengan ice gel yang dipersiapkan juga sebanyak 2 kg artinya harus ada persiapan lebih kurang 5 kg bagasi hanya untuk membawa ASIP. 
Karena ternyata ada banyak sekali ibu ibu baik yang mau menulis tentang membawa ASIP lintas negara,kekuatiran menjadi berkurang berganti dengan persiapan.  Apa saja yang disiapkan?????  Tentu saja mental untuk meninggal ichiro si baby 4 bulan, karena ada mbahnya di rumah tentu saja bisa percaya sepenuhnya.  Beberapa point yang penting di bawah ditulis untuk kenangan, dan siapa tahu ada yang membutuhkan informasi ini.
I.                        Persiapan peralatan pumping
Pompa  ASI adalah barang wajib untuk busui yang tidak bisa memerah pakai tangan, selain membawa si Medela harmoni yang sudah berusia 4 tahun, unimom electric juga di bawa untuk cadangan dan untuk kegiatan pumping di hotel.    Karena tidak punya cooler box, di bawalah dua cooler bag Gabag, satu yang baru beli yang satu unit dengan tas ransel, dan satu cooler bag tua yang dipakai sejak zaman anak ke dua dulu.  Ice gel atau blue ice juga tidak dilupakan 2 buah @500 gram yang merupakan hadiah beli tas gabag, dan 2 buah @500 gram blue ice yang beli di ACE (bukan beli pakai duit tapi beli pakai point hihihihi).  Tidak lupa tentunya plastic tempat ASI dan plastic biasa untuk lapisan tambahan.
II.                      Pumping sebelum take off
Demi aman dari pemeriksaan selama di bandara,  blue ice di masukandalam bagasi, jadi yang ditenteng hanya pompa dan plastik pembungkus.  Karena penerbangan sore jadi siang sudah berangkat ke bandara, dan langsung saja masuk ke dalam untuk mencari ruangan menyusui untuk pumping sebelum berangkat.  Pemeriksaan bawaan kabin memang sangat ketat untuk penerbangan international, hal tersebut disiasati dengan memompa ASI hanya setelah melewati pemeriksaan terakhir.  Keberangkatan melalui terminal 2 bandara sutta tidak perlu dikhawatirkan untuk ibu menyusui, karena setelah pemeriksaan terakhir ada banyak ruang menyusui yang sangat nyaman.
Pumping pertama sebelum masuk gate, disebuah ruang menyusui yang bersih dan nyaman.  Ada dispenser air panas, ada wastafel dan sabun, tissue juga dalam jumlah cukup, ada sofa yang nyaman dan juga tempat tidur baby yang bisa juga difungsikan sebagai tempat ganti popok.  Karena blue ice semua masuk dalam bagasi, untuk mendinginkan ASIP I awalnya berniat membeli batu es di penjual minuman dingin di depan gate.  Ternyata karena sang penjual melihat tas ASIP,batu es pun digratiskan dan ASIP I pun aman masuk dalam pesawat tanpa pemeriksaan .
III.                       Pumping dalam pesawat
Ini bagian yang agak mendebarkan, terutama karena penerbangan lebih dari 2 jam.  Jangan lupa untuk pakai baju yang memudahkan kegiatan pumping (baju menyusui tentunya), dan apron atau syal untuk menutupi pandangan orang yang kepo.  Waktu check in sudah minta untuk ditempatkan di antara penumpang cewek, tapi karena kursi sudah dipesan, petugasnya bilang bisa request nanti di dalam pesawat.  Ternyata ada beberapa baris bangku kosong di bagian belakang, dan oleh pramugari juga diizinkan untuk pindah.  Memang harus jujur dan berani bilang ke pramugari, dan syukurnya difasilitasi sama mereka, bahka waktu minta es batu juga diberikan dengan gratis dalam jumlah yang cukup.  Pompa yang dipakai selama di dalam pesawat adalah Medela manual yang tanpa suara.  Ilmu cuek merupakan bekal yang penting, dan jangan malu untuk menjelaskan kalau ada yang bertanya.
Keadaan yang sama juga ditemui sewaktu pulang, bahkan karena penerbangan terakhir semua stok es batu malah dibungkus rapi oleh pramugarinya dan disusunkan didalam cool bag.  Baik kan pramugari air asia (bukan di endorse ya). 
IV.                      Pumping selama di hotel dan di acara seminar
Sebelum berangkat wajib sepertinya untuk mempersiapkan kertas kertas label, lakban, dan jangan lupa kertas kosong plus spidol permanent yang besar untuk labeling mendadak.  Terutama di negara yang bahasa inggris tidak mudah dipahami, apalagi memang bahasa inggris per ASIPan kan memang tidak semua mempelajari.  Email berisi permintaan untuk bisa mendapatkan kulkas kecil dikamar hotel (mini bar) dan untuk bisa menitipkan ASI di freezer hotel juga sudah dikirim.  Hotelnya ternyata bersedia, hasil pumping di perjalanan dan ice gel masuk dalam cooling bag dan segera dititipkan di hotel, tentu saja dengan label besar diluar tas tersebut.  ASIP selama di Bangkok disimpan dalam kulkas mini bar, pertimbangannya adalah bahwa ASIP beku akan segera dikonsumsi setelah pulang, sementara yang dingin akan di bekukan, karena perjalanan total hanya 6 hari.
Selama seminar di BITEC ternyata tidak ada ruang menyusui, tapi tidak habis akal akhirnya pumping ditoilet (bersih), disela sela seminar.  Antisipasi kontaminan ASIP dengan selalu membawa air mineral (ini banyak disediakan kalau seminar) untuk cuci tangan, tissue basah yang mengandung alcohol untuk sterilisasi , dan tissue kering yang sudah disiapkan sendiri.  Pompa yang digunakan juga pilih yang manual supaya tidak ribet cari colokan listrik dan bunyinya juga tidak menarik perhatian.  Beberapa mata kepo sih, tapi lama lama mereka juga senyum dan mengerti, waktu yang dipilih adalah bukan pas jam istirahat, karena toilet pasti penuh.
Setelah pumping pekerjaan lainnya adalah mencari es batu, karena blue ice semua di bekukan di freezer hotel untuk persiapan membawa ASIP kembali ke Jakarta.  Makan siang atau coffe break saat seminar kan biasanya  pake model model buffee/prasmanan, dan banyak petugas yang berdiri kalau kalau itu makanan habis dan ada yang perlu bantuan.  Kendala es batu diatasi dengan minta es batu pada mereka, siapkan juga wadahnya .  Bisa kotak plastic yang bisa masuk dalam cool bag, atau plastic vinyl .  Masalah awalnya adalah petugasnya tidak bisa berbahasa inggris, dan aku tidak bisa berbahasa thai.  Tapi teknologi sekarang kan keren, googling gambar es batu dan tunjukin sama mereka, langsung deh mereka mengerti dan problem es batu pun solved.  Seusai seminar kegiatan pumping di hotel dilakukan  sedisiplin mungkin, supaya enggak bengkak tentunya, disinilah gunanya di pompa elektrik, cepat biarpun sedikit berisik tapi bisa mompa sambil whatsapp video sama anak anak dirumah.
V.                         Packing Hasil Pumping
Perkiraan awal hasil ASIP hanya sekitar 2.5 liter, ternyata efek makanan enak selama seminar selama  24 jam itu bisa pumping sebanyak 1 literan.  Hari terakhir seminar pagi pagi sudah ambil titipan ASIP dan ice gell di hotel.  Penerbangan pulang sore hari dan harus buru buru check out sebelum jam 12 siang.  Total dipacking pagi ada sekitar 6 liter.  Ice gel yang dititip dihari pertama sudah keras, dan menurut cerita yang sudah berpengalaman bisa mendinginkan ASIP hingga 24 jam.  Packing dilakukan dengan metode tidak menyisakan ruangan hampa di dalam tas, ice gel di paling bawah dan kiri kanan sekeliling tas.  ASIP yang dibungkus kantong di lapisi plastic vynil dan dibungkus dengan aluminium foil atau kertas koran satu persatu (dibawa dari Indonesia).  Setelah itu bagian atas ditutup dengan ice gel lagi, dan pumping terakhir di Bangkok juga dimasukan ke dalam tas tersebut.  Setelah beres, ditimbang ternyata tas ASIP tersebut mencapai 12 kg, baju baju kotor dipacking rapi dan digunakan untuk memenuhi koper tersebut, plus brosur brosur yang diperoleh selama seminar.
Waktu mau check in di DMK sempat ditanya oleh petugas di mesin X ray, cuma karena dia nanya pakai bahasa thai, ya cuma dibalas senyum aja dan tidak diperiksa sama sekali dan koper ASIP bisa masuk ke bagasi dengan aman.  Beberapa dokumen mengenai membawa ASIP yang diperoleh dari webnya TSA sudah diprint dan tinggal ditunjukin ke mereka kalau diperlukan, kalau mereka minta di buka ya dibuka saja, nanti sisanya kita packing ulang.  Itulah kenapa siapkan lakban dan kertas kertas label dalam jumlah cukup, untuk antisipasi kalau harus di repacking di bandara.
Selanjutnya tugas kita adalah berdoa, semoga pesawat tidak delay, semoga bagasi tidak nyasar dan rusak selama perjalanan.  Jangan lupa minta label “fragile” di bagasi kita, supaya diperlakukan dengan proper selama di bandara
VI.                          Finally
Jam 11 siang ice box keluar dari kulkas, dan jam 2 malam baru sampai rumah.  Bagaimanakah kondisi ASIP setelah melintasi tapal batas NKRI.  Ternyata AMAN! Ice gel masih beku, ASIP pertama juga masih beku dan segera dipindahkan ke kulkas rumah, ASIP yang disimpan diminibar juga masih dingin dan segera masuk ke dalam freezer, menutupi ruang ruang kosong dalam freezer karena ditinggal selama enam hari
Semakin kesini memang semakin banyak fasilitas untuk ibu bisa memberi ASI untuk anak anak, terakhir lewat bandara HLP juga suda ada ruang menyusui yang nyaman.  Jadi, jangan menyerah pejuang ASI karena alam semesta akan mendukung kita kalau kita mau meneguhkan hati dan berusaha.
*Ditulis dalam rangka enam bulan Senopati Ichiro Rajagukguk dan akhirnya  lulus ASI exlusive