Monday, April 23, 2012

III.3bulan; Sekarang saya warga Cikarang

Hahahahahahaha.....salah format posting.

3 bulan ini memilih pasif dan hanya sebagai pembaca setia. maklum sedang sibuk melewati masa percobaan yang sudah lewat dan juga kondisi yang berstatus bumil lagi.  Yap...akhirnya positif disela sela kesibukan saat inang mertuaku operasi batu ginjal beberapa bulan lalu.

Pengalaman keguguran ternyata cukup membuatku agak khawatir, tapi aku sempat dibilang pamer lho.  Permasalahannya karena aku selalu menceritakan kondisiku kepada semua orang yang berinteraksi denganku terutama dalam halam pekerjaan.  Aku cuma mau aware, supaya orang yang tahu juga ikut menjagaku dan bayiku, meskipun kenyataannya di republik ini banyak sekali yang tidak bersahabat dengan bumil.

Dan ternyata mulai kamis kemarin, diusia kehamilan dua belas minggu, flek datang juga mengunjungiku.  Dan akhirnya harus rela dengan obat obat penguat rahim yang selama ini tidak pernah aku minum.  Semoga baik baik saja ya beb....

HPLnya masih bergeser geser karena sudah 3 dokter yang aku kunjungi, tapi sekitar akhir oktober dan awal november tahun ini.  Cari dokter ternyata gampang gampang susah, tapi Puji Tuhannya semua dokter yang kukunjungi pro denganku untuk VBAC tentu saja syarat dan kondisi berlaku .

Mulai kemarin juga resmi jadi penduduk Cikarang baru, ternyata enak ya kerja tidak takut dihadang macet.  Masih beres beres barang pindahan, masih coba cari cari dokter dan rumah sakit yang disini.  Padahal masih banyak cerita lho...

Friday, January 27, 2012

Demo mu derita ku....

21.30
Baru sampe rumah, Ichiko sudah tertidur, abang sudah pergi mengantar Inang ke RS PGI Cikini.  Semua rencana berantakan.  Badan sudah letih, teringat motor tehnisi dilab yang tiba tiba bocor, memaksaku harus naik ojek.

Terharu waktu tukang ojeknya tidak memasang tarif, padahal dalam kondisi masih sweeping begini tukang ojek susahhhhhhhhh banget di cari, kalaupun ada tarifnya selangit.  Keluar di beberapa jalan tikus ternyata semua macet, di blokir dan di hadang, sampai aku harus berargumen karena di cegat sama buruh (yang tampangnya seperti preman)..

Puji Tuhan abang ojeknya pinter, aku sampai dengan selamat di stasiun Cikarang (sesuatu banget).  Kuulurkan 20 ribu, tanpa minta kembalian, aku terharu karena rezekinya juga jadi seret gara gara demo ini.  Beli tiket purwakarta -jakarta  2 ribu perak saja.  Tapi miris liat banyak bayi dan anak anak dengan muka lelah menunggu kereta.  Bis/Travel dan mobil yang mereka naiki terperangkap macet, satu satunya pilihan ke Jakarta adalah dengan menggunakan kereta.

Pukul 18:45 kereta sampai distasiun cikarang, temanku ketinggalan kereta dan sampai jurnal ini kutulis dia masih terjebak macet di cikarang.  Ada ibu muda dengan bayinya, yang membuat aku dan 2 orang bapak bapak mengalah naik kereta terakhir.  Ingat perjalanan pulang dari medan ke jakarta yang membuatku kecewa dengan orang orang yang tidak peduli.  Bapak bapak tersebut memintaku terus mendampingi sang ibu dan bayinya, kami berdiri disambungan gerbong, padat, sesak, belum lagi ditambah tangisan anak anak yang terjepit.  Keretapun berangkat.

Sampai di bekasi akhirnya kami bisa duduk.  Mulailah cerita cerita bermunculan.  Tentang surat kesepakatan yang di ingkari, tentang kepentingan siapa melawan siapa.  Aku pusing aku cuma tahu, semua pihak dirugikan, dan entahlah kemana para pemimpin negeri ini!

Sampai rumah aku lelah
Email di hp dari teman teman jepangku, yang menceritakan kalau pemblokiran jalan tol pun jadi berita heboh di jepang.

Entahlah bagaimana akhirnya, tapi aku benar benar kecewa dengan semua ini.  Tapi ini negeriku, tanah airku.
(yang mulai menyukai ketulusan orang orang bertampang sederhana di kereta odong odong, dibanding mbak mbak keren yang sibuk dengan bebenya)